BC? Second Liner? Third Liner ? Gorengan??

By | April 17, 2012
COMPANY LIFE CYCLE

COMPANY LIFE CYCLE

Sebenarnya, saya pribadi tidak terlalu favorit dengan perusahaan blue chip. Sangat jarang saya membeli blue chip. Bahkan ASII / Astra sekalipun saya terakhir beli pas harganya hanya 20 ribuan, setelah itu sudah tidak pernah beli lagi.

Hal ini dikarenakan saya tidak mendapati potensi gain yang cukup besar di ASII maupun saham BC. Kalaupun saya beli BC, itu hanya pada saat harga BC tersebut sedang rendah – rendahnya, seperti beli LSIP di kisaran 2100-2200 (awal beli). Kalau tidak lagi murah banget, saya gak akan beli BC.

Dalam Life Cycle sebuah produk, maupun juga sebuah perusahaan,. Ada fase – fasenya. bisa dilihat pada ilustrasi di atas. Dimana ada fase start up, growing, mature, decline dan berakhir pada deadth/exit, kecualiu perusahaan/produk mampu melakukan inovasi sehingga revenue dan earning perusahaan bisa meningkat lagi.

Kita bahas dulu ya masing – masing fase :

Start up :

Perusahaan baru berdiri, fase ini merupakan fase yang SANGAT BERBAHAYA, sebab mayoritas bisnis yang dimulai mengalami kegagalan. Hal ini mungkin disebabkan karena kurangnya pengalaman dari founder atau pendiri perusahaan. Biasanya di tahap ini perusahaan merugi. mungkin karena biaya promosi untuk mengenalkan perusahaan / produk ke pasar serta biaya  riset yang besar, sehingga membuat keuangan perusahaan merugi. Biasanya fase ini 1-2 tahun, bisa lebih cepat bisa lebih lama tergantung penerimaan pasar terhadap produk / perusahaan.

Di fase ini Risk sangat besar, namun potensi gain kecil.

Growing :

Inilah fase favorit saya,  di fase ini, biasanya perusahaan membutuhkan banyak sekali dana. tidak jarang di fase ini banyak yang IPO / initial public offering, dimana perusahaan menawarkan sahamnya ke publik dan menjadi perusahaan terbuka dengan saham yang tercatat di bursa efek.

Ciri khas perusahaan yang sedang masih dalam fase grow adalah membutuhkan banyak dana sehingga tingkat hutang pada fase ini tergolong tinggi, bahkan bisa mencapai lebih dari 2x ekuitas bahkan ada yang 3x.

Perusahaan yang masuk ke fase ini, telah lolos dari fase start up, dan produknya mulai dikenal dan diterima masyarakat. Saham – saham di fase growing ini ,biasanya dikenal dengan sebuat second/third liner di bursa efek. bahkan ada yang menyebutnya saham gorengan.

Walau memiliki risk yang cukup besar, namun potensi gain di sektor ini juga besar.

Resikonya antara lain :

– Biasanya Hutang besar,

– kadang Fluktuatif harga saham tinggi, dan bergerak dengan sangat cepat naik-turunnya

– Namun kadang juga harga sahamnya bisa “tidur” dalam waktu yang cukup lama

– Kalau ternyata gagal, sahamnya bisa turun hingga 80% dari harga tertinggi bahkan ada kasus yang turun hingga 95%.

Potensi :

– Growth, baik revenue growth maupun profit growth sangat tinggi, sehingga pada saat LK Dirilis (dikeluarkan), maka harga saham bisa naik tinggi, jadi LK bisa jadi sentimen yang sangat positif.

– Biasanya pada fase growth, saham perusahaan dihagai dengan nilai yang rendah, bahkan jauh di bawah harga wajarnya.

– Jika perusahaan bisa terus berkembang dan akhirnya masuk ke fase Mature, maka disinilah akan ada tuaian besar, dimana saham perusahaan akan dihargai sangat tinggi.

Saya punya cara berpikir begini, lebih baik, invest 20% uang untuk gain 100%, daripada invest uang 100% untuk gain 20% juga. sama aja kan..Kalau anda hanya invest 20%uang anda, yang 80% lagi bisa anda masukan ke deposito dan akan dapat bunga lagi jadi cuannya bisa lebih dari 20%.

Dan di fase inilah , anda bisa mendapatkan keuntungan yang sangat besar. ingat bahwa saham ASII sekalipun harga sahamnya pernah di bawah Rp. 1000 (saat ini sempat Rp. 80.000), UNTR sempat di bawah Rp. 400 (saat ini Rp. 30 ribuan), LSIP pernah Rp. 80 (saat ini Rp. 3150), UNVR pernah hanya RP. 300 (saat ini Rp. 20 ribuan) dan BUMI juga pernah di harga RP. 50 sebelum akhirnya naik ke RP. 8750..

Mature :

Pada fase mature ini, biasanya saham yang tadinya di fase growing tidak banyak dikenal, setelah masuk ke mature, akan mulai dikenal bahkan menjadi sangat terkenal. Dan bagi yang membeli sejak fase  growing, maka setelah perusahaan sukses dan masuk ke fase mature, maka pemegang saham akan menuai sangat besar.

Biasanya pada fase mature, pertumbuhan perusahaan akan mulai melambat. Yang sebelumnya di fase growing,  perusahaan bisa bertumbuh di atas 50% per tahun, bahkan bertumbuh 100% per tahun, maka di fase mature, akan melambat, bahkan munghkin akan bertumbuh di bawah 20% per tahun saja sudah bagus atau bahkan 10% per tahun.

Hal ini dikarenakan makin besar size sebuah perusahaan maka tingkat pertumbuhan yang bisa dicapai makin rendah. jika tidak demikian maka suatu saat akan ada perusahaan yang menguasai seluruh dunia.

Contoh, saya punya modal Rp. 1000 , hari ini saya beli sebuah roti di pasar, kemudian besok  jual di kampung seharga Rp. 1500, maka dalam sehari bisa dapat untung Rp. 500 atau 50%. Tapi bayangkan uang saya Rp. 1.000.000.000 sama beli satu juta roti di pasar hari ini, besok tidak mungkin bisa menjual satu juta roti di kampung, sementara julah penduduk hanya 1000 penduduk.

Sehingga semakin besar ukuran suatu perusahaan, maka growth yang dicapai cenderung semakin rendah.

Positifnya, resiko memiliki perusahaan di fase ini menjadi semakin rendah, karena biasanya perusahaan serta produknya sudah dikenal oleh masyarakat luas, serta rasio hutang yang semakin rendah, rata – rata rasio hutang pada perusahaan mature hanya kisaran 1x saja. bahkan ada yang di bawah 0,5x ekuitas.

Karena growth yang rendah, biasanya harga saham perusahaan mature tidak bisa naik terlalu banyak. Namun ketika pasar mengalami kejatuhan, saham perusahaan mature adalah saham yang paling cepat pulih jika dibandingkan dengan saham perusahaan growing.

Memegang saham perusahaan mature, menurut saya cukup aman, namun di sisi lain, juga tidak bisa mengharapkan gain yang besar. Namun jika pasar saham mengalami kejatuhan yang dalam, maka saham perusahaan mature adalah pilihan yang tepat, sebab akan menjadi yang pertama mengalami pemulihan harga saham, bahkan ketika pemulihan terjadi, bahkan bisa melebihi harga sebelum kejatuhan.

Declining :

Fase ini adalah fase yang sangat sangat berbahaya, sebab kalau tidak turun, maka harga saham perusahaan yang sedang mengalami penurunan akan stagnan.

Misal saham yang saat in sedang declining, adalah saham industri telekomunikasi. Saham industri telekomunikasi saat ini sedang tertekan lantaran biaya di industri ini tergolong padat modal, namun kondisi pasar di sektor telekomunikasi sendiri sedang dalam persaingan yang sangat ketat.

Dan hal ini tercermin melalui laporan keuangan dan harga saham telekomunikasi, yang cenderung stagnan dari tahun ke  tahun, bahkan jika dibandingkan dengan tahun 2007, hampir smeua saham telekomunikasi saat ini jadu di bawah harga tertinggi tahun 2007, bahkan TLKM hanya sekitar 50% dari harga tertinggi tahun 2007, sementara BEI saat in sekitar 80% lebih tinggi dari tertinggi tahun 2007. Dan banyak saham yang naik lebih tinggi 100% lebih dari harga tertinggi tahun 2007.

Setelah fase declining, ada dua pilihan, pertama perusahaan bisa melakukan inovasi, atau terus melakukan penurunan.